Bayangkan seorang anak yang sejak kecil hidup di tengah lingkungan yang mengajarkan kepadanya satu hal sederhana:
“Hormatilah orang lain, sebagaimana engkau ingin dihormati.”
Ketika ia duduk bersama teman-temannya, ia belajar untuk tidak mengambil tempat orang lain. Jika ada seseorang datang, ia belajar memberikan ruang. Ia dilatih untuk mempersilakan orang yang datang dan tidak merasa bahwa tempat yang ia duduki adalah miliknya sendiri.
Begitulah adab dibangun.
Bukan hanya dengan nasihat, tetapi dengan kebiasaan kecil yang dilakukan berulang-ulang.
Ketika ada tamu datang ke rumah, anak dibiasakan berdiri menyambutnya. Bukan karena tamu itu harus diagungkan secara berlebihan, tetapi karena menghormati orang yang datang adalah bagian dari kemuliaan akhlak.
Anak juga diajarkan untuk mendengarkan ketika orang lain berbicara.
Apalagi ketika ia berada di majelis ilmu bersama guru.
Ia tidak memotong pembicaraan. Tidak sibuk sendiri. Tidak bermain ketika orang lain sedang berbicara. Ia belajar menatap, memperhatikan, dan mendengarkan dengan baik.
Sebab, anak yang pandai berbicara belum tentu beradab.
Tetapi anak yang pandai mendengarkan sedang belajar menjadi manusia yang berilmu.
Jangan Biarkan Anak Membanggakan Apa yang Bukan Miliknya
Ada pula satu penyakit yang perlu dijaga sejak kecil:
membanggakan makanan, minuman, pakaian, atau sesuatu yang dimiliki orang tua.
Seorang anak jangan sampai merasa tinggi hanya karena ayahnya memiliki sesuatu yang tidak dimiliki teman-temannya.
“Rumah saya lebih bagus.”
“Ayah saya punya ini.”
“Di rumah saya ada makanan seperti itu.”
“Barang saya lebih mahal.”
Mengapa ini harus dijaga?
Karena kesombongan sering kali tumbuh dari sesuatu yang sederhana.
Anak perlu memahami bahwa apa yang ada di tangannya adalah nikmat dari Allah, bukan alasan untuk merendahkan orang lain.
Ajarkan Anak Siapa yang Harus Dihormati
Kemudian anak diperkenalkan kepada orang-orang yang memiliki kedudukan dan kemuliaan.
Ia diajarkan menghormati ulama, orang-orang saleh, orang tua, guru, kerabat, dan orang-orang yang dekat dengannya.
Tetapi penghormatan itu tidak berhenti pada ucapan.
Anak melihat bagaimana orang tuanya menghormati guru.
Anak melihat bagaimana ayah dan ibunya berbicara kepada orang yang lebih tua.
Anak melihat bagaimana orang tuanya memperlakukan orang yang lebih lemah.
Anak belajar adab terutama dari apa yang ia lihat.
Karena itu, pendidikan akhlak tidak cukup hanya dengan berkata:
“Jangan kurang ajar!”
Anak perlu melihat contoh bagaimana menjadi orang yang beradab.
Ketika Anak Berbuat Baik, Jangan Pelit Apresiasi
Lalu bagaimana ketika anak melakukan sesuatu yang baik?
Jangan lewatkan.
Jika anak menunjukkan perilaku yang terpuji, berikan penghargaan.
Tidak selalu harus berupa hadiah.
Kadang cukup dengan mengatakan:
“Ayah senang melihat kamu melakukan itu.”
Atau:
“Masya Allah, tadi kamu sudah membantu teman. Itu perbuatan yang baik.”
Anak perlu tahu bahwa perilaku baiknya dilihat dan dihargai.
Bahkan, jika memungkinkan, apresiasi itu dapat diberikan di hadapan orang lain sehingga anak merasa bahagia karena kebaikannya dihargai.
Namun ada satu hal penting:
pujian diberikan untuk menumbuhkan kecintaan kepada kebaikan, bukan untuk menumbuhkan kesombongan.
Lalu Bagaimana Jika Anak Berbuat Salah?
Di sinilah pendidikan menjadi lebih halus.
Misalnya suatu hari anak melakukan kesalahan secara sembunyi-sembunyi.
Apa yang harus dilakukan?
Jangan langsung dibuka aibnya di depan orang banyak.
Jangan mempermalukannya.
Jangan menjadikannya bahan cerita:
“Ini lho, anak saya kemarin melakukan kesalahan seperti ini!”
Karena mempermalukan anak di depan orang lain bisa membuat hatinya keras.
Ia bisa merasa:
“Kalau begitu, sekalian saja saya menjadi anak nakal.”
Maka kesalahan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, jika memungkinkan, diperbaiki juga secara sembunyi-sembunyi.
Panggil anak.
Ajak bicara.
Tidak perlu semua orang tahu.
Tidak perlu suara keras.
Tidak perlu mempermalukannya.
Cukup katakan:
“Nak, yang kamu lakukan itu tidak baik. Ayah ingin kamu tidak mengulanginya lagi.”
Bahkan bisa disampaikan dengan peringatan yang menyentuh masa depannya:
“Kalau kesalahan ini kamu ulangi dan sampai diketahui orang lain, itu akan menjadi keburukan bagi dirimu. Karena itu, cukup sampai di sini. Jangan diulangi lagi.”
Jangan Terlalu Banyak Mengomel
Ada satu kesalahan yang sering dilakukan orang tua dan pendidik:
terlalu banyak mengingatkan.
Anak melakukan satu kesalahan, lalu dinasihati.
Besok diingatkan lagi.
Lusa diungkit lagi.
Minggu berikutnya masih dibicarakan.
Akhirnya nasihat yang seharusnya berat menjadi ringan di telinga anak.
Anak mulai berpikir:
“Paling nanti dimarahi lagi.”
Akhirnya nasihat kehilangan wibawanya.
Karena itu, ketika anak melakukan kesalahan, tegurlah dengan jelas, tegas, dan secukupnya.
Jangan sampai banyaknya kata justru membuat anak tidak lagi peduli dengan peringatan.
Tegas pada Kesalahan yang Serius
Namun lembut bukan berarti membiarkan.
Ada perkara yang memang harus ditegaskan sejak kecil.
Misalnya:
berbohong, berkata kotor, berbuat keji, melampaui batas syariat, mencuri, dan memakan harta yang haram.
Untuk perkara seperti ini, pendidik tidak boleh bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Anak perlu mengetahui:
“Ini salah.”
Tetapi cara menyampaikannya tetap harus memperhatikan martabat anak.
Tegas terhadap perbuatannya, tetapi tidak menghancurkan harga dirinya.
Bukan:
“Kamu memang anak nakal!”
Melainkan:
“Perbuatan itu salah. Kamu tidak boleh mengulanginya.”
Ada perbedaan besar antara mengoreksi perilaku dan melabeli pribadi anak.
Jangan Membuka Aib Anak di Hadapan Orang Lain
Jika anak melakukan kesalahan, jangan menjadikannya tontonan.
Jangan dicela di tengah khalayak.
Jangan dipermalukan di depan teman-temannya.
Karena tujuan pendidikan bukan membuat anak merasa hina.
Tujuannya adalah membuat anak berubah menjadi lebih baik.
Maka koreksilah secara pribadi.
Bahkan, sebisa mungkin, tidak ada seorang pun yang mengetahui bahwa anak sedang dinasihati.
Pendidik mengambil anak ke samping.
Berbicara empat mata.
Menjelaskan kesalahannya.
Kemudian memberinya kesempatan untuk memperbaiki diri.
Inilah seni menegur anak:
keras terhadap kesalahan, tetapi tetap menjaga kehormatan orang yang melakukan kesalahan.
Adab Itu Dibangun dari Hal-Hal Kecil
Dari rangkaian nasihat ini kita bisa melihat bahwa pendidikan anak ternyata bukan hanya tentang mengajarkan hafalan.
Anak diajarkan:
- bagaimana memberi tempat kepada orang lain,
- bagaimana menyambut tamu,
- bagaimana berdiri menghormati orang yang datang,
- bagaimana mendengarkan ketika orang lain berbicara,
- bagaimana tidak membanggakan harta orang tua,
- bagaimana menghormati ulama, orang tua, guru, kerabat, dan orang-orang saleh,
- bagaimana menghargai kebaikan,
- dan bagaimana menerima teguran ketika melakukan kesalahan.
Semua itu tampak seperti perkara kecil.
Tetapi justru dari perkara kecil itulah karakter seorang anak dibangun.
Dan yang paling menarik adalah cara memperbaiki kesalahan:
jangan mempermalukan anak di depan manusia, tetapi bimbinglah ia ketika hanya ada engkau dan dirinya.
Sebab seorang pendidik bukan sedang mencari kesalahan anak.
Seorang pendidik sedang menyelamatkan masa depan anak dari kesalahan yang sama.
Pujilah kebaikan anak agar ia mencintai kebaikan.
Tegurlah kesalahannya agar ia meninggalkan keburukan.
Tetapi jagalah kehormatannya agar ia tidak kehilangan harga dirinya.
Karena tujuan pendidikan bukan sekadar membuat anak takut melakukan kesalahan, tetapi membuatnya mencintai kebaikan dan malu kepada Allah ketika melakukan keburukan.
Nurul Waqaf, 18 Agustus 2026
POSKU, singkatan dari Persatuan Orang Tua Santri Kuttab Al-Fatih, adalah wadah yang menyatukan para orang tua santri di lingkungan Kuttab Al-Fatih. Didirikan dengan tujuan mempererat hubungan antara orang tua dan pihak Kuttab, POSKU berperan sebagai jembatan komunikasi dan koordinasi, serta sebagai support system dalam mendukung program-program pendidikan yang diselenggarakan oleh Kuttab.



Add comment