Ada sebuah pertanyaan yang mungkin sederhana, tetapi penting dalam perjalanan mendidik anak: dari mana semuanya dimulai?

Apakah dari banyaknya hafalan? Dari kemampuan membaca? Dari banyaknya aturan yang mampu mereka patuhi?

Dalam perjalanan pendidikan, ternyata ada sesuatu yang perlu tumbuh terlebih dahulu: iman.

Disebutkan bahwa Imam Syafi’i mempelajari iman dalam waktu yang sangat panjang. Seolah iman memang bukan sekadar sesuatu yang selesai dipelajari dalam satu pelajaran. Ia adalah sesuatu yang perlahan tumbuh di dalam hati, melalui waktu, pengalaman, dan perjumpaan seseorang dengan tanda-tanda kebesaran Allah.

Karena itu, ketika anak-anak diajarkan tentang kebersihan, misalnya, mereka tidak hanya diminta mengetahui bahwa dirinya harus bersih. Ada ruh yang lebih dahulu ingin dihadirkan. Bahwa Allah mencintai kebersihan dan keindahan. Ketika anak memahami kepada siapa sebuah kebaikan itu bermuara, mungkin perlahan ia tidak lagi hanya melakukan sesuatu karena disuruh.

Begitu pula dengan alam. Pohon, langit, hujan, tanah, dan makhluk-makhluk kecil bukan hanya menjadi bahan pembelajaran. Alam menjadi jalan untuk menghadirkan rasa. Anak-anak belajar melihat, lalu perlahan bertanya. Dari pertanyaan-pertanyaan kecil itu, hati mereka mungkin mulai mengenal kebesaran Rabb yang menciptakan semuanya.

Karena itu, fase Makkiyah menjadi sebuah fondasi yang tidak boleh terlewatkan. Surah-surah Makkiyah hadir membawa pengenalan tentang Allah, kabar gembira, kehidupan setelah kematian, surga, dan perjalanan panjang manusia menuju Rabb-nya. Pada masa ini, anak-anak seakan sedang diajak untuk lebih dahulu mengenal kasih sayang Allah. Sebelum banyak hal menjadi tuntutan, ada cinta yang ingin tumbuh. Sebelum mereka mengenal banyak kewajiban, ada rasa rindu yang ingin ditanamkan kepada surga dan kepada perjumpaan dengan Allah.

Di rumah, ayah memiliki ruang yang begitu luas dalam perjalanan ini. Mungkin melalui sebuah cerita sebelum tidur. Mungkin melalui kisah Rasulullah ﷺ yang diceritakan di sela perjalanan. Sirah Nabawiyah tidak selalu harus hadir seperti pelajaran yang berat. Ia bisa hidup dalam percakapan sederhana antara ayah dan anak.

Tentang Rasulullah. Tentang para sahabat. Tentang keberanian. Tentang kesabaran.

Tentang hari ketika semua manusia akan kembali.

Hari akhir pun perlahan dapat menjadi bahan dialog. Bukan untuk memenuhi hati anak dengan ketakutan, tetapi untuk mengajak mereka memahami bahwa kehidupan ini sedang berjalan menuju sebuah tempat. Ada perjalanan yang panjang, dan ada bekal yang perlu disiapkan. Ada surga yang indah, yang mungkin kelak menjadi tempat berkumpulnya orang-orang yang saling mencintai karena Allah.

Rasulullah ﷺ banyak mengajarkan melalui teladan. Dan mungkin itulah yang sangat dekat dengan dunia anak-anak. Mereka berada dalam fase meniru. Mereka melihat bagaimana orang tuanya berbicara. Mereka melihat bagaimana ayah dan ibunya beribadah. Mereka melihat bagaimana orang dewasa memperlakukan orang lain.

Kadang-kadang, tanpa disadari, anak sedang belajar bahkan ketika kita merasa tidak sedang mengajarinya.

Setelah iman mulai tumbuh, anak kemudian berjumpa dengan Al-Qur’an. Dan ketika Al-Qur’an datang setelah hati diperkenalkan kepada Allah, setiap hafalan diharapkan tidak hanya bertambah di dalam ingatan. Ia juga perlahan menambah keimanan.

Anak-anak membutuhkan orang yang membersamai perjalanan itu.

Mereka membutuhkan seseorang yang duduk di sampingnya ketika hafalannya belum lancar. Seseorang yang mengulang bersama ketika ayat yang kemarin mulai terlupa. Seseorang yang tidak hanya menunggu hasil, tetapi hadir dalam prosesnya.

Murajaah bisa dimulai dari Surah An-Naas. Perlahan, sedikit demi sedikit. Setelah kesungguhan mereka terlihat, hadiah boleh menjadi bentuk kegembiraan. Bukan sekadar hadiah karena berhasil, tetapi sebuah tanda bahwa perjalanan kecil mereka dihargai.

Ada kalimat yang indah untuk mengingat perjalanan bersama Al-Qur’an:

Ziyadah adalah tanda cinta, sedangkan murajaah adalah tanda setia.

Menambah hafalan adalah sebuah perjalanan untuk terus mendekat. Tetapi menjaga hafalan yang sudah ada adalah kesetiaan untuk tidak meninggalkan apa yang pernah kita cintai.

Dalam perjalanan itu, ada pula buku mutaba’ah. Sebuah buku kecil yang mungkin terlihat sederhana, tetapi sebenarnya menjadi jembatan antara rumah dan Kuttab. Orang tua memeriksanya setiap hari, melihat catatan dari ustadzah, mengetahui bagaimana perjalanan anak di tempat belajarnya. Dengan begitu, anak tidak merasa bahwa rumah dan sekolah adalah dua dunia yang terpisah. Ada orang-orang yang saling membersamai perjalanan mereka.

Bersama Al-Qur’an, anak-anak juga belajar adab. Mereka belajar bahwa mushaf bukan sekadar buku yang dibaca. Ada kemuliaan yang perlu dijaga. Ada sikap yang perlahan ditumbuhkan ketika mereka berhadapan dengan kalam Allah.

Dalam perjalanan membaca Al-Qur’an, Modul Kaidah Baghdadiyah juga dibantu dengan Modul Latihan Baghdadiyah atau MLB yang memberikan latihan lebih rinci. Semua dilakukan perlahan, sesuai perjalanan anak-anak.

Dan hari seorang mukmin pun memiliki awal yang istimewa.

Subuh.

Saat sebagian dunia masih terlelap, seorang mukmin perlahan memulai harinya. Ada sesuatu yang indah ketika pagi pertama kali dibuka dengan mengingat Allah. Mungkin tidak semua hari berjalan sempurna. Mungkin ada hari yang berat. Tetapi ada sebuah awal yang selalu bisa kembali diperbaiki.

Subuh.

Banyak hal dalam perjalanan pendidikan ini dibangun melalui dialog. Anak-anak tidak selalu hanya perlu diberi jawaban. Kadang mereka perlu diajak bertanya. Diajak berpikir. Diajak merasakan. Dari percakapan kecil, mungkin ada sesuatu yang kelak tinggal lama di dalam hati mereka.

Dan semua perjalanan itu akhirnya kembali kepada rumah.

Kepada orang tua.

Kesalehan orang tua menjadi sebuah harapan dan wasilah agar Allah menjaga anak-anak mereka. Ada doa yang mungkin tidak pernah terdengar oleh anak. Ada air mata yang mungkin tidak pernah mereka lihat. Ada ibadah yang dilakukan dalam diam, dengan harapan agar kelak Allah menjaga generasi setelahnya.

Mungkin itulah sebabnya birrul walidain menjadi salah satu tujuan yang begitu besar. Anak-anak belajar mengenal Allah, belajar mencintai Al-Qur’an, dan dalam perjalanan itu mereka juga belajar mencintai serta berbakti kepada kedua orang tuanya.

Ada harapan yang sederhana, tetapi begitu besar.

Semoga perjalanan itu tidak berhenti di dunia.

Semoga suatu hari nanti, orang tua dan anak-anaknya kembali berkumpul di tempat yang tidak lagi mengenal perpisahan.

Surga.

Kemudian perjalanan tarbiyah itu tidak hanya berhenti pada hati dan pikiran.

Jasad pun memiliki hak untuk ditarbiyah.

Tubuh adalah amanah dari Allah. Ia perlu dijaga, dikuatkan, dan dipersiapkan. Tetapi kekuatan dalam olahraga bukanlah tujuan yang berdiri sendiri. Di Kuttab Al-Fatih, tubuh yang kuat diharapkan menjadi jalan agar seseorang lebih kuat beribadah dan mampu menghadirkan akhlak yang mulia dalam kehidupannya.

Ada ikrar sebelum olahraga. Anak-anak diingatkan tentang tujuan yang lebih jauh daripada sekadar permainan. Bahwa tubuh ini sedang bergerak di bawah pengawasan Allah. Bahwa ketika berlari, bermain, menang, ataupun kalah, ada adab yang tetap perlu dijaga.

Olahraga kemudian bukan hanya tentang siapa yang paling cepat.

Bukan hanya siapa yang paling kuat.

Di dalamnya ada proses membangun karakter.

Di rumah, perjalanan itu dapat terus dilanjutkan. Tidak harus selalu melalui olahraga yang berat. Anak-anak bisa diajak bergerak melalui aktivitas sederhana. Berjalan. Bermain bola. Melempar. Menangkap.

Gerakan-gerakan kecil itu mungkin terlihat biasa.

Tetapi di sana jasad sedang belajar.

Dan bersama jasad, karakter pun perlahan dibentuk.

Ada target mental yang dibangun melalui dzikir. Anak-anak belajar bahwa tubuh mereka bergerak, tetapi hati tetap dapat mengingat Allah. Ada target keterampilan melalui permainan melempar, bola kasti, serta kemampuan menangkap dan mengoper bola. Ada pula target fisik, seperti mempertahankan kemampuan berjalan dengan baik dan membiasakan tubuh untuk terus aktif.

Pada akhirnya, pendidikan memang sedang menyentuh seluruh diri seorang anak.

Imannya. Pikirannya. Hatinya. Hafalannya. Adabnya. Dan jasadnya.

Seorang anak tidak hanya sedang dipersiapkan untuk menjadi pandai. Mereka sedang bertumbuh menjadi manusia yang mengenal kepada siapa ia kembali. Tubuhnya dikuatkan agar mampu beribadah. Akalnya dibuka agar mampu berpikir. Hatinya dilembutkan agar mampu mencintai.

Dan di sepanjang perjalanan itu, mereka tidak berjalan sendiri.

Ada guru.

Ada orang tua.

Ada doa-doa yang mengiringi.

Ada tangan yang menggandeng ketika langkah mereka masih kecil.

Dan mungkin, itulah makna membersamai.

Bukan hanya melihat anak sampai di tujuan.

Tetapi berjalan bersama mereka, perlahan, hingga suatu hari nanti, perjalanan panjang itu semoga membawa seluruh keluarga kembali berkumpul di tempat yang paling indah.

Di surga Allah.

POSKU Kuttab Al-Fatih Makassar

POSKU, singkatan dari Persatuan Orang Tua Santri Kuttab Al-Fatih, adalah wadah yang menyatukan para orang tua santri di lingkungan Kuttab Al-Fatih. Didirikan dengan tujuan mempererat hubungan antara orang tua dan pihak Kuttab, POSKU berperan sebagai jembatan komunikasi dan koordinasi, serta sebagai support system dalam mendukung program-program pendidikan yang diselenggarakan oleh Kuttab.

Add comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *