Ada sebuah negeri yang sedang didatangi oleh para utusan Allah. Dua orang datang membawa kebenaran, tetapi mereka didustakan. Kemudian Allah menguatkan keduanya dengan seorang utusan lagi. Tiga orang kini berdiri di tengah sebuah kaum yang belum mau membuka hati.

Allah mengabadikan kisah itu dalam Surah Yasin:

وَاضْرِبْ لَهُم مَّثَلًا أَصْحَابَ الْقَرْيَةِ إِذْ جَاءَهَا الْمُرْسَلُونَ ۝١٣
“Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu penduduk suatu negeri ketika para utusan datang kepada mereka.”
(QS. Yasin: 13)

Dua orang utusan datang. Mereka menyeru kepada Allah. Tetapi jawaban yang mereka terima adalah penolakan. Lalu datang utusan yang ketiga sebagai penguat. Namun semakin banyak yang menyeru, ternyata tidak selalu semakin mudah sebuah kebenaran diterima.

Kadang kebenaran datang berkali-kali, tetapi hati tetap memilih untuk menutup diri.

Di tengah suasana itulah, dari sebuah tempat yang jauh di dalam kota, seorang laki-laki mulai bergerak. Allah tidak menyebut namanya. Tidak disebutkan kedudukannya, hartanya, ataupun keluarganya. Hanya satu yang Allah sebutkan: seorang laki-laki.

وَجَاءَ مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ رَجُلٌ يَسْعَىٰ
“Dan datanglah dari ujung kota seorang laki-laki dengan bergegas.”
(QS. Yasin: 20)

Ada sesuatu yang menarik dari ayat ini. Ia datang dari ujung kota. Dan ia datang dengan bergegas.

Seolah-olah ketika kebenaran membutuhkan seseorang untuk berdiri, ia tidak ingin terlambat.

Ia tidak menunggu dipanggil. Ia tidak menunggu orang lain bergerak lebih dahulu. Ia mendengar tentang para utusan itu, lalu langkahnya bergerak menuju mereka. Ada al-mubādarah di sana: sebuah inisiatif yang lahir dari kesadaran, bukan karena diperintah.

Mungkin jaraknya jauh. Mungkin ada banyak hal yang harus ia tinggalkan. Tetapi ada saat ketika seseorang harus memilih antara tetap berada di tempat yang nyaman atau berjalan menuju sesuatu yang diyakininya benar.

Laki-laki itu memilih untuk berjalan.

Dan ketika sampai, ia tidak berdiri sebagai orang yang sekadar ikut menyaksikan. Ia berbicara kepada kaumnya.

اتَّبِعُوا الْمُرْسَلِينَ ۝٢٠
اتَّبِعُوا مَن لَّا يَسْأَلُكُمْ أَجْرًا وَهُم مُّهْتَدُونَ ۝٢١

“Ikutilah para utusan itu. Ikutilah orang yang tidak meminta imbalan kepadamu, dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”
(QS. Yasin: 20–21)

Ada keberanian dalam kalimat itu. Ia tahu siapa yang sedang ia bela. Ia tahu kepada siapa ia berpihak. Dan ia tidak menyembunyikannya.

Tetapi keberaniannya bukan keberanian yang gaduh.

Ia tidak mencaci kaumnya. Ia tidak merendahkan mereka. Ia justru membawa mereka kepada sebuah pertanyaan yang sederhana namun dalam:

وَمَا لِيَ لَا أَعْبُدُ الَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
“Dan mengapa aku tidak menyembah Tuhan yang telah menciptakanku, dan hanya kepada-Nyalah kamu akan dikembalikan?”
(QS. Yasin: 22)

Ia berbicara dengan keyakinan, tetapi juga dengan alasan.

Di sinilah asy-syajā‘ah bertemu dengan al-hikmah. Keberanian untuk menyampaikan kebenaran tidak membuatnya kehilangan kejernihan berpikir. Ia tidak sekadar berani bersuara; ia tahu apa yang ingin disampaikan dan mengapa ia menyampaikannya.

Ia bahkan melanjutkan:

أَأَتَّخِذُ مِن دُونِهِ آلِهَةً إِن يُرِدْنِ الرَّحْمَٰنُ بِضُرٍّ لَّا تُغْنِ عَنِّي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا وَلَا يُنقِذُونِ
“Apakah aku akan mengambil tuhan-tuhan selain-Nya? Jika Tuhan Yang Maha Pengasih menghendaki bencana terhadapku, niscaya syafaat mereka tidak berguna sedikit pun bagiku dan mereka tidak dapat menyelamatkanku.”
(QS. Yasin: 23)

Namun kebenaran tidak selalu membuat orang yang mendengarnya menjadi lembut.

Ada hati yang semakin keras ketika kebenaran datang.

Dan akhirnya, laki-laki itu harus membayar keberaniannya dengan nyawa.

Kita tidak menemukan kisah panjang tentang bagaimana ia dibunuh. Al-Qur’an segera membawa kita kepada akhir yang jauh lebih indah:

قِيلَ ادْخُلِ الْجَنَّةَ
“Dikatakan kepadanya, ‘Masuklah ke dalam surga.’”
(QS. Yasin: 26)

Langkah yang tadi bergegas dari ujung kota akhirnya berhenti di dunia.

Tetapi ternyata, langkah itu justru membawanya menuju tempat yang lebih jauh dan lebih indah.

Dan di titik inilah ada sesuatu yang membuat kisah laki-laki ini terasa begitu dalam.

Setelah semua yang dilakukan kaumnya terhadap dirinya, setelah ia dibunuh, setelah ia mendapatkan kemuliaan dari Allah, ia tidak menoleh kepada mereka dengan dendam.

Ia justru berkata:

قَالَ يَا لَيْتَ قَوْمِي يَعْلَمُونَ ۝٢٦
بِمَا غَفَرَ لِي رَبِّي وَجَعَلَنِي مِنَ الْمُكْرَمِينَ ۝٢٧

“Dia berkata, ‘Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui, bagaimana Tuhanku telah mengampuni aku dan menjadikanku termasuk orang-orang yang dimuliakan.’”
(QS. Yasin: 26–27)

Perhatikan kalimat itu.

“Yā laita qawmī ya‘lamūn…”

“Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui…”

Kaum yang ia maksud adalah kaum yang telah menolaknya. Kaum yang tidak mendengarkan nasihatnya. Bahkan kaum yang telah membunuhnya.

Tetapi di dalam dadanya tidak tumbuh keinginan untuk membalas.

Ia masih menginginkan mereka mengetahui kebaikan yang telah Allah berikan kepadanya.

Di sana ada salāmat aṣ-ṣadr.

Hati yang tetap bersih.

Bukan hati yang tidak pernah terluka, tetapi hati yang tidak membiarkan luka berubah menjadi kebencian.

Mungkin inilah bagian paling indah dari kisahnya.

Ia berani berdiri bersama kebenaran, tetapi tidak menjadikan keberaniannya sebagai alasan untuk membenci manusia. Ia tegas dalam keyakinan, tetapi tetap menyimpan harapan bagi kaumnya.

Kemudian Allah menutup kisah negeri itu dengan sebuah gambaran yang singkat dan menggetarkan:

إِن كَانَتْ إِلَّا صَيْحَةً وَاحِدَةً فَإِذَا هُمْ خَامِدُونَ ۝٢٩
“Tidak ada siksaan terhadap mereka melainkan dengan satu teriakan saja; maka seketika itu mereka mati.”
(QS. Yasin: 29)

Satu negeri yang tadi dipenuhi suara penolakan, akhirnya sunyi.

Dan Allah melanjutkan:

يَا حَسْرَةً عَلَى الْعِبَادِ ۖ مَا يَأْتِيهِم مِّن رَّسُولٍ إِلَّا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ ۝٣٠
“Alangkah besar penyesalan terhadap hamba-hamba itu! Tidak datang seorang rasul pun kepada mereka kecuali mereka selalu memperolok-olokkannya.”
(QS. Yasin: 30)

Pada akhirnya, yang tersisa adalah penyesalan.

Sementara seorang laki-laki dari ujung kota itu telah lebih dahulu menemukan tempatnya.

Ia tidak dikenal namanya.

Tidak tercatat jabatan atau kekayaannya.

Tetapi ketika kebenaran membutuhkan seseorang, ia datang.

Ia bergegas.

Ia berbicara.

Ia berani.

Ia berpikir dengan hikmah.

Dan ketika semuanya selesai, hatinya masih mampu berkata tentang kaumnya:

“Andai saja mereka mengetahui…”

Barangkali di situlah ar-rujūlah menemukan maknanya yang lebih dalam.

Bukan sekadar tentang menjadi laki-laki, tetapi tentang apa yang tumbuh di dalam diri seorang laki-laki ketika keadaan menuntutnya untuk berdiri.

Ada al-mubādarah yang membuatnya bergerak.

Ada keberanian yang membuatnya bersuara.

Ada hikmah yang membuat suaranya tidak berubah menjadi kebisingan.

Dan ada hati yang tetap selamat, bahkan setelah dunia memberinya alasan untuk membenci.

Namanya tidak kita ketahui.

Tetapi Allah memilih untuk mengabadikan langkahnya.

Seorang laki-laki dari ujung kota, yang datang dengan bergegas ketika kebenaran membutuhkan seseorang untuk berdiri.

POSKU Kuttab Al-Fatih Makassar

POSKU, singkatan dari Persatuan Orang Tua Santri Kuttab Al-Fatih, adalah wadah yang menyatukan para orang tua santri di lingkungan Kuttab Al-Fatih. Didirikan dengan tujuan mempererat hubungan antara orang tua dan pihak Kuttab, POSKU berperan sebagai jembatan komunikasi dan koordinasi, serta sebagai support system dalam mendukung program-program pendidikan yang diselenggarakan oleh Kuttab.

Add comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *